Will God Forgive You if You Have the Micro Chip and Not Know

Pulau Langkai, Foto Udara Menggunakan Drone Pasir Putih Melingkar Mengelilingi Pulau

Indonesi-Timur.com; Pesona Pasir Putih Dan Kondisi Masyarakat Melingkari Pulau Langkai. Sungguh keindahan alam yang memanjakan mata, dengan hamparan pasir putih mengelilingi garis pantai, anak kecil dengan riang bermain di pinggir pantai, ibu-ibu yang sedang berkumpul di gubuk sembari beristirah dan bercerita serta mata tak lepas dari anak-anak meraka yang bermain di pesisir pantai. Namun dibalik gubuk yang merupakan tempat jualan gorengan dan minuman dingin, terdapat aktifitas kaum laki-laki yang asik mengerjakan kapal kayu, dengan berbagai alat dan tugas dikerjakan. Sekilas, mata mereka memperhatikan kedatangan kami dengan penampilan yang berbeda, serta wajah-wajah baru yang mereka tidak kenal. Namun dengan ramah mereka tersenyum dengan ramah menyapa kami.

KRAKTERISTIK PENDUDUK

Pulau langkai, di huni oleh etnik suku Bugis, Makassar dan Mandar, etnik suku yang berbeda-beda telah menjadi satu kelompok masyarakat dengan hubungan sosial yang kuat, tergambar dari tradisi gotong-royong masyarakat, seperti ketika terjadi cuaca ekstrim, penduduknya saling bahu-mengbahu untuk mengamankan perahu, dan kapal nelayan yang ada di pesisir pantai, kemudiam masyarakat menariknya dan sebagian lagi mengangkat perahu naik keatas daratan.

Pulau langkai terdiri atas 1 RW yang terdiri dari 5 RT, satu diantaranya berada di Pulau Lanjukang, yakni RT 5. Untuk Pulau Lankai, terdiri dari 4 RT dengan jumlah penduduk 1054 jiwa, untuk detainya dapat dilihat pada table berikut ini.

No

Jenis Kelamin

Lansia

Dewasa

Remaja

Anak-Anak

Balita

Total

1

Laki-laki

18

361

102

84

17

582

2

Perempuan

14

283

87

75

thirteen

472

Total

32

644

189

159

30

1054

Pulau yang berpenduduk cukup padat, dengan corak ekonomi sebagaian besar berprofesi sebagai nelayan, baik sebagai nelayan kecil dan nelayan besar. Nelayan kecil adalah masyarakat mengunakan perahu kecil (lepa-lepa, dalam Bahasa Makassar) dengan mengunakan alat tangkap berupa pancing, pukat dan panah. Nelayan besar adalah nelayan yang mengunakan kapal dengan ukuran besar bobot xx gross ton keatas, dengan alat tangkap berupa, pukat dengan jumlah anak buah kapal (ABK) 7-14 orang. Nelayan yang mengunakan kapal besar sering kali disebut Kapal Pagae (dalam Bahasa Makassar). Hubungan secara umum komunitas nelayan Pagae adalah punggawa-sawi, dimana punggawa sebagai pemilik modal dan kapal dengan sawi sebagai ABK, dengan sistem bagi hasil antara punggawa dengan sawi dalam perbandingan 2:1, dalam artian hasil tangkapan di bagi dua, 50% untuk punggawa dan 50% untuk dibagi ke ABK (sawi).

Dipulau Langkai terdapat 30 unit armada kapal Pagae dengan rata-rata vii sawi yang dipekerjakan. Terdapat 30 Punggawa dan sebagian lagi sebagai pengumpul hasil tangkapan untuk di jual ke Makassar. Secara detai dapat dilohat pada grafik berikut ini.

Dominan masyarakat Pulau Langkai bermata pencarian sebagai Sawi, dan Nelayan pancing. Dalam kondisi ekonomi masyarakat khususnya Sawi yang ada di Pulau Langkai, berada dalam kondisi yang berkecukupan hal tersebut di sebabakan karena sawi tidak bekerja secara penuh dalam satu tahun, karena pagae tidak melakukan aktivitas penangkapan dikarenakan kondisi rumpon yang sudah ditempati menangkap ikan sudah terbatas dan butuh beberapa lama lagi untuk ikan bersarang dan mencari makan di rumpon tersebut. Sehingga pada muson angin timur, punggawa melakukan perbaikan kapal untuk menyambut muson angin barat yang akan datang, pungawa mempersiapkan pembuatan rumpon baru. Rumpon merupakan tempat tinggal ikan yang dibuat oleh nelayan sebagaian nelayan mendapatkan bantuan dari pemerintah terkait untuk embuatan rumpon. Bahan-bahan yang digunakan berupa batu yang terbuat dari pasir dengan campuran semen, dengan cetakan karung pupuk atau karung gula ukuran 50 kg, secara keseluruhan dikerjakan oleh nelayan Sawi dengan arahan dari pungawa. Batu yang telah siap, kemudian dimuat ke kapal untuk dibawah ke lokasi rumpon yang telah lama diamati oleh nelayan sebagai tempat yang strategis. Dalam satu kapal pagae, biasanya memiliki 5 – 10 rumpon beberapa tempat, seperti perairan Makassar, Maros dan Pangkep. Ada thirty fleet kapal Pagae di Pulau Langkai, dengan jumlah 210 rompong yang tersebar di perairan laut Makassar, Maros, dan Pankep

Namun tidak menuntup kemungkinan ada kapal pagae yang tetap melaut pada saat muson angin timur karena tahu kondisi ikan dirompong serta memiliki prinsip hidup semua rejeki sudah ditentukan oleh yang maha kuasa. Pada umumnya kapal pagae dominan beroprasi pada muson angin barat sebagai musim panen ikan. Aktivitas kapal yang terhenti pada muson angina timur, berdampak langsung pada kondisi ekonomi keluarga sawi, tidak adanya aktivitas ekonomi membuatnya terjerat rantai piutang pada pungawa, namun dari beberapa tahun terakhir ini, kelompok sawi telah melakukan adaptasi situasi ekonomi, dengan mengambil langkah alih pekerjaan, pada saat muson angin timur.

Masyarakat dengan pekerjaan utama sebagai nelayan pancing dan penyelam, memilih untuk tidak menjadi sawi, karena adanya rasa "ingin bebas dan tidak berada dalam keterikatan hubungan ekonomi dengan seseorang dan lebih besar pengasilannya kalau jadi pemancing, penyelam ujar bapak Aco. Bisa lagi di diatur diri sendiri, kapan mau pergi melaut ujar bapak Tahir (Aco dan tahir, nama yang disamarkan). Dilihat dari presentasi fleet di Pulau Langkai, Maka dominan masyarakat memiliki lepa-lepa (perahu kecil), Kapal Pagae (kapal kayu sedang), dan Satu Unit Kapal Domestik, seprti berikut ini.

Baca Juga : Pulau Lanjukang, Keindahan Yang Tersembunyi

Besarnya jumlah unit of measurement kapal kecil, karena secara keseluruhan masyarakat memiliki perahu kecil, baik sawi pagae dan masyarakat yang bekerja sebagai nelayan pemancing. Sawi memiliki perahu untuk persiapan pada muson angin timur. Kelompok pagae, memiliki jadwal operasi pada bulan ane – four, untuk melakukan penangkapan ikan di berbagai lokasi rumpon milik punggawa, seperti di perairan Makassar, Maros, dan Pangke dengan potensi ikan yang masih cukup besar. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar kelender monsun berikut ini;

Berdasarkan gambar diatas, cauca ekstrim terjadi pada muson angin barat, tepatnya bulan satu sampai pada pertengahan bulan, cuaca esktrim terjadi, seperti, angin puting beliung, mmbak besar, ombak pasang, hujan lebat, dan tornado di laut. Dengan potensi ikan tenggiri, mairo dan gurita, sedangkan pada muson angin timur, cuaca relative teduh, dengan potensi ikan, sunu, katamba, masidu, dan sotong, meski terjadi cuaca buruk di angin timur dapat diketahui oleh masyarakat nelayan, dengan melihat tanda-tanda alam yang ada disekitanya, seperti awan hitam, petir, posisi bulan, dan arul air laut. Cuaca ekstri hanya terjadi pada muson angin barat yang sangat berdampak terhadap kehidupan masyarakat dan kondisi pulau. Dampak dari cuaca ekstrim, ada dua yakni terhadap kondisi ekonomi masyarakat dan kondisi fisik pulau,

KONDISI EKONOMI MASYARAKAT LANGKAI

Membuat ekonomi masyarakat menjadi terpuruk, disebakan oleh kondisi cuaca yang ekstrim, sehingga masyarakat tidak dapat memaksimalkan waktu untuk melakukan penangkapan ikan. Cuaca buruk membuat masyarakat nelayan untuk tetap tinggal dipulau sembari menunggu kondisi cuaca membaik. Dengan kondisi cuaca yang etrim, membuat masyarakat beradaptasi dengan memanfaatkan waktu teduh di sela-sela cuaca ekstrim. kondisi cuaca ekstrim terjadi dalam 3 – 4 hari berturut-turut, dan terdapat jedah. Jedah cuaca buruk dijadikan peluang masyarakat untuk keluar melaut, dengan lokasi penangkapan ikan dekat pulau, dengan mempertimbangkan keselamatan. Sehingga pada saat melaut dan terjadi cuaca buruk nelayan bisa langsung pulang ke pulau karena jarak yang dekat.

KONDISI FISIK RUMAH DAN PULAU

Dalam kondisi cuaca ekstrim, pulau langkai mengalami abrasi, yang cukup, signifikan dengan jarak abrasi 4 – six meter/tahun, dengan kerusakan pada vegetasi tanaman kelapa di belah selatan. Namun abrasi yang terjadi, tidak mengancam permukiman masyarakat karena jarak rumah terdekat masyarakat dari bibir pantai saat ini, adalah 37 meter. Hanya saja, kondisi pantai sudah khusus masyarakat sudah melakukan antisipasi baik dalam perbaikan, dan penguatan atap rumah. Dan terdapat satu penahan pasir pulau yang dibuat oleh masyarakat dengan sumber anggaran dari pemerintah kelurahan. Sedangkan untuk yang tinggal di pesisir pantai, masyarakat sering kali membuat penahan angin dan penahan percikan ombak, yang terbuat dari daun kepala yang di buat memanjang seperti pagar yang dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar daun kelapa yang di jadikan pagar penahan percikan ombak
Gambar daun kelapa yang di jadikan pagar penahan percikan ombak

Di Pulau Langkai sudah mengalami pengikisan garis pantai sejauh l meter yang digambarkan oleh ibu suhada. Dengan dasar tolak ukur, rumahnya yang dahulu berjalarak lx meter dari bibir pantai, dan telah ia pindahkan ke bagian dalam pulau karena teramcam obrasi dan dinding rumahnya sering rusak karena hantaman ombak dari belakang, dengan sisah jarak 5 meter dari bibir pantai. Ancaman abrasi dikawasan pesisir yang terus terjadi membuat masyarakat merasa terancam dengan kondisi pulau yang semakin kecil dan banyak pohon tumbang karena abrasi dibagian pesisir yang dimanfaatkan masyarakat sebagai penahan angin kencang. Keterbatasan ekonomi masyarakat dalam pembangunan panahan pasir, membuatnya banyak berharap bantuan ke pemerintah setempat, bahkan masyarakat perna meminta pemerintah kelurahan untuk membuatkan penahan pasir karena abrasi pantai semakin dekat dengan Kawasan permukiman warga.

Gambar penahan pasir warga yang di buat pada tahun 2015

Ditahun 2015 masyarakat dan pemerintah setempat membuat Tanggul penahan pasir yang terbuat dari kerangka kayu dengan diisi batu gunung didalamnya, pembangunan penahan pasir yang dibuat memberikan dampak yang cukup positif dengan berkurangnya pasir yang terkikis. Dampak pantai yang tekikis dan pohon tumbang di pantai dapat dilihat pada dokumentasi yang ada dibawah ini;

Gambar kondisi pantai yang telah mengalami abrasi

Gambar tumbangnya pohon akibat abrasi, dengan kondisi akar utuh dan mejulang ke atas

phillipslare1957.blogspot.com

Source: https://indonesia-timur.com/pesona-pasir-putih-dan-kondisi-masyarakat-melingkari-pulau-langkai/

0 Response to "Will God Forgive You if You Have the Micro Chip and Not Know"

Mag-post ng isang Komento

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel